8 Suku Terisolir di 13 Kampung Kovaer Jauh Dari Sentuhan Pemerintah

8 Suku Terisolir di 13 Kampung Kovaer Jauh Dari Sentuhan Pemerintah

Ilustrasi Pulau Papua

Jayapura-Sejak 13 daerah terisolir mulai ‘dibuka’ oleh pemerintah pada tahun 1982, hingga kini belum mendapat  perhatian dan sentuhan pembangunan terutama pada pelayanan masyarakat. Guru dan petugas kesehatan tidak tersedia. Maka para penginjil yang ada berperan ganda sebagai guru dan tenaga medis, demikian disampaikan Evangelis David Koromat belum lama di kantor DPRP di Jayapura.

Dirinya menyebut 8 suku terisolir yang  mendiami 13 kampung di wilayah Kovaer diantaranya,  Suku Tearu, Suku Tigre, Suku Edopi, Suku Kiri-Kiri, Suku Iyariki, Suku Douw dan Suku Sehudate . Letak suku-suku terasing itu tepat berada ditengah-tengah antara Kab.Mamberamo Raya, Waropen, Puncak Jaya dan Yahukimo.

Secara geografis memang sangat sulit dan berpengaruh pada ketersediaan sarana transportasi. Juga pembagian tanggungjawab dari pemda masing-masing sebab seringkali koordinasi masing-masing pemda tidak berjalan baik bahkan saling melempar tanggungjawab.

Katanya, jangan hanya dikota yang diberikan pelayanan-pelayanan di bidang kesehatan dan pendidikan, “tetapi mari  melihat daerah-daerah lain di Papua yang masih kurang pelayanannya juga yang sama sekali belum disentuh”.

“Mari kita jujur untuk melihat Papua secara keseluruhan, Papua yang luas membutuhkan pelayanan yang merata dari pemerintah terutama dinas yang berhubungan lansung dengan bidang kesehatan dan pendidikan. Papua kaya,sumber dayanya melimpah bisa kasih makan 129 negara melalui kebedaan Freeport di Papua”.

David Koromat bekerja dan mengabdi di wilayah terisolir sejak 2005 hingga sekarang, semua yang dilakukan karena ‘panggilan’ untuk melayani masyarakaat sebagai tenaga Evangelis. Di kelompoknya ada 8 orang dan David yang termuda.

Lanjutnya lagi, “untuk pengabdian hanya orang-orang yang bekerja dengan hati yang bisa mendampingi masyarakat untuk membangun. Walaupun kami hanya sebagai penginjil namun kami bisa untuk melakukan hal-hal yang lain terkait pendidikan dan kesehatan dengan metode belajar yang kami terapkan dengan pola sekolah peradaban”.

Anak-anak usia sekolah dididik kemudian mereka bawa ke kota, selain itu anak diajar membaca dan menulis sebagai  bekal dasar untuk mengejar program-program paket yang ada dikota. Mereka juga mengajar untuk usai lanjut.

Harapnya pemerintah dapat memperhatikan dan melayani masyarakat yang berada di daerah terisolir sehingga tidak saja menjadi bahan kampanye pemerintah untuk menghasilkan program dan uang tapi harus benar-benar datang dan mendampingi masyarakat.(03/AlDP)