Ada Indikasi Perusahaan Jual Lahan di Degeuwo

Jayapura – Dewan Adat Daerah Paniai mengindikasikan telah terjadi penjualan lahan tambang emas tradisional oleh perusahaan di Degeuwo, Paniai.

John Gobai, Ketua DAD Paniai mengatakan, penjualan lahan bisa dilakukan jika perusahaan merasa sangat terjepit. “Persoalan menjadikan Degeuwo sebagai pertambangan rakyat atau ditertibkan, bisa memicu penjualan lahan milik perusahaan, ketika dibeli perusahaan lain, semua akan berubah, kami juga melihat bahwa pemilik ijin tambang mulai mengadudomba masyarakat sehingga tercipta kelompok WPR dan penertiban, ini ada apa,” kata John, Jumat.

Menurutnya, saat ini kedua kelompok, termasuk perusahaan lagi mencari manuver dan cara untuk memenangkan pendapatnya. Sementara yang nanti akan sangat diuntungkan adalah pemilik modal besar. “Semua bermain, kami menduga, perusahaan juga yang membiaya sebuah pertemuan di Degeuwo pada tanggal 6 April lalu, dan membawa wartawan menginap di hotel,” ucapnya

Ia mengatakan, masalah Degeuwo makin membesar setelah keluarnya Instruksi Gubernur Papua Nomor 1 Tahun 2011 tentang pemberhentian kegiatan pertambangan emas tanpa izin di seluruh wilayah Papua. Ingub diterbitkan pada 9 Mei 2011 di Jayapura

Sebelum INGUB, Bupati Paniai telah mengeluarkan INBUP Nomor 53 Tahun 2009 tentang Penutupan Sementara Lokasi Pendulangan Emas, pada 26 Agustus 2009. “Tapi apa yang terjadi, semua sama saja, mau ditertibkan tapi tidak berhasil.

Lepas dari itu, John memandang, masalah Degeuwo makin pelik saban hari. Jika kemudian tak diperoleh penyelesaian secara adil, dapat memicu konflik antar warga. “Untuk saat ini tidak ada alat berat yang beroperasi, semua dilarang, kalau mereka bergerak, kita juga akan bergerak, semua harus menunggu masalah Degeuwo selesai dulu,” kata John.

Masalah lain yang mengikuti di kawasan tambang itu adalah maraknya tempat prostitusi. “Sekarang tidak aman, disana terjadi penembakan juga prostitusi, jangan bikin Degeuwo seperti daerah lain,” ujar Matias Nakapa, Kepala Suku Wolani.

Sedikitnya terdapat tujuh lokasi besar penambangan emas di Degeuwo. Diantaranya lokasi 81-45, jumlah penambang disana mencapai kurang lebih 1500 orang. Di areal 90, 100 warga beroperasi. Di Bayabiru, terdapat 1600 orang, Sayaga, 1300 lebih, Telagabiru , 900 penambang, dan lokasi Damai Satu, 100 lebih. “Tanah kami kalau rusak, bukan penambang yang kena, kita yang tinggal dari kecil sampai mati disini yang akan dapat akibatnya, jadi saya minta semua bersihkan,” kata Nakapa. (02/AlDP)