17 Agustus : Merdeka dari Rasa Takut

Andawat– Sejak awal Agustus 2011 masyarakat terus disuguhi aksi kekerasan dari satu episode ke episode lainnya. Aktifitas masyarakat sempat terhenti kemudian berlangsung relatif normal, orang masih ke kantor, ke sekolah, ke pasar ataupun beribadah namun sebenarnya tidak ada tempat yang aman, tak ada sumber informasi yang dapat memastikan bahwa Jayapura,aman.

Hari-hari setelah tanggal 1 Agustus 2011 adalah hari-hari yang ‘tidak normal’. Menyusul aksi penembakan mobil tanggal 11 Agustus 2011 dan tanggal 15 Agustus di Abe Pantai. Dinihari tadi tanggal 16 Agustus 2011 terjadi pengibaran bendera serta penyerangan terhadap warga sipil di BTN Tanah Hitam. Segera setelah itu terjadi aksi pengejaran dan saling tembak mulai sekitar pukul 05.30 hingga sekitar pukul 11.00 siang. Warga panik, anak- anak sekolah dipulangkan. Tidak ada jaminan bahwa aksi kekerasan akan berakhir dalam waktu dekat ini.

Di tempat – tempat umum terlihat mobil patroli polisi dan tentara demikian juga polisi dan tentara yang mengendarai motor atau berjalan kaki sambil menenteng senjata laras panjang. Selain itu ada mobilisasi orang-orang yang terkesan tidak biasa di tempat-tempat umum, memang tidak dalam jumlah besar namun hal ini tidak biasa terjadi sebelumnya.

Kekerasan bersenjata di Papua, tidak saja terjadi di daerah tertutup seperti Puncak Jaya atau sekitar areal penambangan PT Freeport tapi kini terjadi di wilayah Kota Jayapura, khususnya daerah Abepura, tanah Hitam, Nafri dan sekitarnya. Kekerasan bersenjata sudah sampai di halaman rumah kita. Seorang teman menasehati “..Hati-hati keluar rumah, kita bisa jadi korban karena memang target atau karena aksi sporadis yang tidak mementingkan siapa korbannya akan tetapi untuk menimbulkan ketakutan…”.Ada juga kekhawatiran bahwa aksi – aksi kekerasan belakangan ini merupakan suatu pengkondisian atas kemungkinan satu peristiwa besar yang akan terjadi. Yang pasti harus dihindari adalah provokasi kekerasan ke arah konflik horizontal.

Melihat lokasi peristiwa dan waktu yang saling berdekatan membuat masyarakat diliputi ketakutan dan berfantasi yang aneh-aneh terutama soal pelaku yang hingga kini masih bebas berkeliaran meski operasi pengejaran terus dilakukan.”..Ini politik-politikan..’, ujar seorang supir dari Arso 13 yang mengalami nasib mujur pada kejadian tanggal 1 Agustus 2011 di Nafri, dia melewati Nafri sejam lebih awal yakni sekitar pukul 02.00 dinihari sebab selain akan ke pasar dia akan mengantarkan kakaknya yang sakit untuk dirujuk ke Jayapura. Ada juga seorang pedagang yang mengatakan,’..kok sulit ya mengejar pelaku, padahal lokasi kejadian itu kebun dan tempat pemukiman..,”

Mereka berdua mungkin tidak memiliki cukup referensi untuk menganalisa lebih jauh peristiwa tersebut namun mereka mewakili suara rakyat yang tidak mengerti mengapa rakyat biasa menjadi sasaran aksi kekerasan. Dengan ungkapan seperti itu mereka ingin mengajak pemerintah masuk ke dalam persoalan kemanusiaan yang tengah dihadapi oleh warga negaranya. Mereka tidak hanya penting tercatat secara statistik saja tapi mereka juga harus menjadi salah satu komponen signifikan dalam membangun Papua yang damai. Mereka menuntut keseriusan pemerintah dalam melindungi warganya.

Pada proses penyelidikan bersama tim gabungan POLRI dan TNI yang berjumlah sekitar 300 personil, pihak kepolisian sudah mengidentifikasi 19 orang sebagai Tersangka kasus Nafri 1 Agustus 2011 berdasarkan dokumen yang ditemukan saat melakukan pengejaran di salah satu gubuk di gunung Nafri yang diduga sebagai tempat beraktifitas dari kelompok TNP/OPM pimpinan Dany Kogoya yang juga disebut sebagai pelaku pada peristiwa Nafri November 2010,(Bintang Papua/16/8/2011).Siapapun pelakunya, tentu memiliki kemampuan luar biasa sebab melakukan aksi di tempat terbuka dengan waktu dan lokasi yang berdekatan

Menyelesaikan kasus-kasus kekerasan di Papua menjadi misteri tersendiri. Aksi-aksi kekerasan di medan terbuka seperti di Nafri pelakunya hingga kini belum berhasil ditangkap dan diadili apalagi dengan situasi medan yang berat seperti aksi-aksi kekerasan di Tingginambut,Puncak Jaya. Profesionalitas aparat keamanan terutama pihak kepolisian terus diuji. Di luar Papua, mereka mendapat pujian atas prestasinya memberantas teroris dukungan capacity building pun cukup banyak dari berbagai lembaga internasional. Tapi di Papua, seperti paradoks.

Ragukah kita pada cara polisi menangani aksi-aksi kekerasan selama ini?.Di sisi lain, apakah pihak kepolisian sendiri yakin mampu menangani aksi-aksi kekerasan tersebut?. Sejujurnya pihak kepolisian harus didukung secara maksimal agar mampu membuktikan hasil penyelidikannya menjadi fakta hukum yang dapat diuji secara formil dan materiil di muka pengadilan.

Besok 17 Agustus 2011 hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 66. Ada merah putih berkibar dimana-mana sebagai lambang kebebasan tapi di dalam hati masih berkibar rasa takut. Pemerintahan sipil wajib hadir mengambil bagian tanggungjawab atas berbagai aksi kekerasan di Papua jangan hanya sibuk dengan urusan pemilihan gubernur. Sehingga tidak sadar otoritasnya direduksi untuk kepentingan politik kekuasaan dan mereproduksi provokasi yang menjurus pada kekerasan. (Andawat/AlDP).