13 Kampung di Mindiptana Butuh Tenaga Medis

13 Kampung di Mindiptana Butuh Tenaga Medis

Jalan-ke-Boven-Digoel-rusak-parah

Boven Digoel – 13 Kampung di Distrik Mindiptana, Kabupaten Boven Digoel, butuh penambahan tenaga kesehatan. Beberapa kampung bahkan belum memiliki Puskesmas Pembantu dengan fasilitas lengkap.

“Ada kampung yang punya pustu, tapi tidak ada tenaga. Pustu hanya untuk pelayanan posyandu. Kader dilatih untuk posyandu. Sebulan sekali dilaksanakan posyandu,” kata Fransiskus Komon, Kepala Distrik Mindiptana, pekan kemarin.

Ia mengatakan, kampung di Mindiptana diantaranya kampung Umap, Imko, Amgumbit, Nihinbang, Andopbit, Epsenbit, Awayanka, Mindiptana, Kamka, Osso, Tinggam, kakuna dan Wanggatkibi. Perjalanan ke Umap dapat ditempuh dengan jarak sekitar 40 Km, sementara ke Wanggatkibi 25 km dari Mindiptana. “Kalau Tinggam 15 Km dan Imko 5 Km dari Mindiptana,” ujarnya.

Dengan jarak yang begitu jauh, pembangunan fasilitas kesehatan menjadi terhambat. “Butuh biaya besar ke sana, kalau di kota, membangun pustu misalnya hanya membutuhkan dana seratus, kalau di kampung di Mindiptana, bisa empat atau lima kali lipat dari itu, hambatan alam dan tidak betahnya petugas berlama-lama di kampung menyebabkan warga kesulitan memperoleh layanan kesehatan maksimal,” ucapnya.

Ia menambahkan, susahnya memperoleh jaminan hidup sehat dirasakan warga di pedalaman terpencil. “Kalau ada warga kampung yang sakit, mereka harus ke RS atau puskesmas. Itu jalannya jauh, biaya yang keluar tidak sedikit, memang benar tidak ada biaya perobatan, tapi biaya yang dikeluarkan untuk perjalanan, sama saja dengan bikin uang habis,” katanya lagi.

Maret Klaru, Ketua Dewan Adat Nusantara mengungkapkan, masalah dasar bidang kesehatan di Boven Digoel dipengaruhi oleh macetnya roda pemerintahan di daerah itu. “Kalau pemerintah pro aktif, semua bidang pembangunan akan berjalan baik, ini sebaliknya, pendidikan begitu-begitu saja, kesehatan memprihatinkan, belum lagi soal ekonomi masyarakat,” katanya.

Maret menawarkan restrukturisasi atau penataan ulang organisasi pemerintahan di Boven Digoel. Sudah harus ada sekertaris daerah definitif, asisten I bidang pemerintahan juga pergantian kepala dinas yang selama ini dijabat oleh pejabat golongan rendah. “Kalau kepala dinas orang tidak berpengalaman, sudah pasti tidak akan jalan, yang kita heran, dana tiap tahun dikucurkan sangat besar, hasil dilapangan tidak nampak, tapi laporan pertanggungjawaban selalu jelas, ada apa ini,” paparnya

Ia meminta audit keseluruhan penggunaan anggaran di Boven Digoel. “Jangan sampai ada penyelewengan. Kita masyarakat yang sengsara tapi pejabat enak-enak saja,” pungkasnya. (02/ALDP)